Dua peneliti pionir telah dianugerahi $3 juta Breakthrough Prize in Life Sciences atas karya dasar mereka dalam pengeditan gen. Swee Lay Thein dari National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI) dan Dr. Stuart H. Orkin dari Harvard University telah diakui atas penelitian dasar yang membuka jalan bagi Casgevy, terapi pertama yang disetujui menggunakan teknologi CRISPR untuk mengobati penyakit sel sabit dan beta-thalassemia.
Ilmu “Menindas Penindas”
Jalan menuju tonggak sejarah medis ini dimulai dengan pertanyaan mendasar: Mengapa beberapa pasien dengan kelainan darah mengalami gejala yang jauh lebih ringan dibandingkan pasien lainnya?
Selama beberapa dekade, para ilmuwan mengamati fenomena biologis yang melibatkan hemoglobin—molekul dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen. Manusia menghasilkan dua tipe utama:
1. Hemoglobin janin: Diproduksi di dalam rahim.
2. Hemoglobin dewasa: Mengambil alih setelah lahir.
Pada kebanyakan orang, tubuh “mematikan” produksi hemoglobin janin saat mereka dewasa. Namun, penelitian Dr. Thein terhadap garis keturunan keluarga besar mengungkapkan bahwa beberapa individu memiliki keunikan genetik yang memungkinkan mereka terus memproduksi hemoglobin janin dalam jumlah tinggi sepanjang hidup mereka.
Melalui analisis genetik terperinci, timnya mengidentifikasi gen spesifik pada kromosom 11 yang disebut BCL11A. Gen ini bertindak sebagai “penekan”—tugasnya mematikan produksi hemoglobin janin. Penelitian Dr. Orkin membuktikan bahwa dengan menggunakan alat pengeditan gen untuk menargetkan dan menonaktifkan penekan ini, para ilmuwan pada dasarnya dapat “mengelabui” tubuh agar menjaga produksi hemoglobin janin tetap aktif.
Dari Penemuan Genetik hingga “Penyembuhan Fungsional”
Penerapan penemuan ini mengarah pada pengembangan Casgevy, pengobatan yang menggunakan “gunting molekuler” CRISPR untuk mengedit sel pasien sendiri. Prosesnya sangat canggih:
– Ekstraksi: Sel induk sumsum tulang dikeluarkan dari pasien.
– Pengeditan: CRISPR digunakan untuk menghilangkan wilayah penekan BCL11A.
– Reinfusi: Sel yang telah diedit dimasukkan kembali ke tubuh pasien, lalu sel tersebut mulai memproduksi sel darah merah yang sehat dan membawa oksigen.
Bagi pasien dengan penyakit sel sabit—yang mempengaruhi 7 hingga 8 juta orang di seluruh dunia—ini merupakan perkembangan yang transformatif. Pada penyakit sel sabit, sel darah merah berubah bentuk menjadi bentuk bulan sabit, menyebabkan rasa sakit yang luar biasa, kerusakan organ, dan penyumbatan yang mengancam jiwa. Dengan memulihkan hemoglobin janin, Casgevy memberikan apa yang disebut sebagai “penyembuhan fungsional”.
Tantangan: Aksesibilitas dan Jalan ke Depan
Meskipun terdapat kemajuan ilmiah, penerapan terapi CRISPR saat ini menghadapi kendala signifikan yang menghalanginya untuk menjadi solusi universal.
1. Kerugian Fisik dan Finansial
Proses pengobatannya sangat melelahkan. Pasien harus menjalani kemoterapi berat untuk mempersiapkan sumsum tulang mereka menerima sel-sel baru, sebuah proses yang bisa memakan waktu hingga satu tahun. Selain itu, biaya terapi ini mencapai jutaan dolar, sehingga tidak dapat diakses oleh sebagian besar populasi global.
2. Kesenjangan Geografis
Penyakit sel sabit dan talasemia beta paling banyak terjadi di Afrika, Asia, dan Mediterania—wilayah yang sering kali kekurangan infrastruktur medis berteknologi tinggi yang diperlukan untuk transplantasi sumsum tulang yang rumit dan pengeditan gen.
3. Pencarian Solusi yang Lebih Sederhana
Untuk menjembatani kesenjangan ini, komunitas ilmiah berupaya mencapai dua batasan utama:
– Pengeditan “in vivo”: Mengembangkan metode untuk menyuntikkan mesin pengeditan gen langsung ke pasien, sehingga menghilangkan kebutuhan akan ekstraksi sumsum tulang dan infus ulang.
– Alternatif farmakologis: Meneliti obat seperti Mitavipat, yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan metabolisme sel darah merah, berpotensi menawarkan pilihan yang jauh lebih murah dan mudah diberikan melalui pil atau infus.
Breakthrough Prize mengakui lompatan besar dalam pengobatan genetika, namun tantangan besar berikutnya terletak pada membuat teknologi penyelamat jiwa ini dapat diakses dan terjangkau oleh jutaan orang yang paling membutuhkannya.
Kesimpulan
Meskipun pengakuan Dr. Thein dan Dr. Orkin menandai kemenangan bersejarah dalam penyuntingan gen, fokus komunitas medis kini beralih dari pembuktian ilmu pengetahuan menjadi penyelesaian hambatan logistik dan ekonomi dalam pemberian layanan kesehatan global.






























