Potensi Terobosan dalam Manajemen Nyeri: Opioid Sintetis Baru Menunjukkan Risiko Kecanduan yang Lebih Rendah dalam Studi Hewan Pengerat

14

Opioid sintetik baru, yang dikembangkan untuk melawan rasa sakit parah, mungkin menawarkan alternatif yang lebih aman dibandingkan zat yang sangat adiktif seperti morfin dan fentanil. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa senyawa baru ini, yang dikenal sebagai DFNZ, dapat meredakan nyeri secara ampuh tanpa depresi pernapasan ekstrem atau euforia intens yang sering kali menyebabkan overdosis dan kecanduan.

Tantangan Pereda Sakit Modern

Komunitas medis telah lama menghadapi “pedang bermata dua” terkait opioid. Meskipun obat-obatan ini tidak ada bandingannya dalam mengobati rasa sakit akibat pembedahan, trauma, dan penyakit kronis, obat-obatan ini memiliki efek samping yang sangat buruk:
Euforia: Dengan membanjiri otak dengan dopamin, opioid menciptakan perasaan “high” yang mendorong penyalahgunaan rekreasi.
Toleransi: Pasien seringkali memerlukan dosis yang semakin tinggi untuk mencapai efek yang sama.
Depresi Pernafasan: Dosis tinggi dapat memperlambat atau menghentikan pernapasan, yang merupakan penyebab utama overdosis yang fatal.

Secara historis, golongan opioid kuat yang disebut nitazene dikembangkan pada tahun 1950-an. Meskipun obat ini 1.000 kali lebih kuat daripada morfin, obat ini sebagian besar sudah ditinggalkan karena risiko overdosisnya yang tinggi. Namun baru-baru ini, nitazene kembali muncul sebagai obat jalanan yang berbahaya, hal ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak akan alternatif sintetis yang lebih aman dan terkendali.

Penemuan DFNZ

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature, ahli farmakologi Michael Michaelides dan timnya memperkenalkan DFNZ, nitazene yang baru dipatenkan. Obat ini tampaknya memecahkan dua masalah utama yang terkait dengan opioid tradisional:

  1. Mengurangi Risiko Overdosis: Tidak seperti nitazen lainnya, DFNZ tidak menekan pernapasan secara agresif.
  2. Potensi Euforia yang Lebih Rendah: Obat ini tidak memicu lonjakan dopamin besar-besaran yang biasanya dikaitkan dengan “high” yang menyebabkan kecanduan.

Menguji Kecanduan di Lab

Untuk mengevaluasi potensi kecanduan obat tersebut, para peneliti melakukan tes “pemberian sendiri” pada tikus. Dengan menggunakan sistem penekan tuas, hewan pengerat tersebut diizinkan untuk memicu dosis DFNZ atau morfinnya sendiri.

Hasilnya memberikan gambaran yang berbeda tentang profil obat tersebut:
Potensi Adiktif: Kedua obat tersebut ditekan oleh tikus, menunjukkan bahwa DFNZ masih memiliki beberapa sifat adiktif.
Keparahan Penarikan: Tikus yang tidak diberi morfin menunjukkan gejala putus obat yang jauh lebih intens—seperti gemetar dan gigi bergemeletuk—dibandingkan tikus yang tidak diberi DFNZ.
Pemulihan Perilaku: Tikus yang tidak diberi morfin terus menekan tuas dalam upaya yang sia-sia untuk mendapatkan lebih banyak morfin, sedangkan tikus yang tidak diberi morfin menghentikan perilaku tersebut lebih cepat.

Lebih lanjut, penelitian ini mengeksplorasi potensi DFNZ sebagai pengobatan untuk gangguan penggunaan opioid. Ketika tikus diberi heroin, tikus yang diobati dengan DFNZ (atau fentanil) menekan tombol secara signifikan dibandingkan tikus yang diberi plasebo. Hal ini menunjukkan bahwa obat tersebut dapat membantu mengekang keinginan untuk menggunakan heroin, seperti halnya pengobatan saat ini seperti metadon.

Pertanyaan Kritis dan Jalan ke Depan

Meskipun hasilnya menjanjikan, para ahli mendesak agar berhati-hati. Natashia Swalve, seorang ahli saraf perilaku yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mencatat bahwa meskipun DFNZ menunjukkan “potensi kecanduan yang lebih lemah”, hal ini tidak sepenuhnya bebas risiko.

Beberapa pertanyaan kunci yang masih ada sebelum DFNZ dapat dianggap sebagai alat medis yang layak:
Faktor Rasa Sakit: Penelitian saat ini tidak memperhitungkan bagaimana rasa sakit kronis yang terus-menerus dapat memengaruhi kecanduan. Apakah pasien yang mengalami rasa sakit yang hebat akan lebih cenderung mencari obat tanpa mempedulikan euforianya?
Keamanan Dosis: Para peneliti hanya menguji dosis pereda nyeri. Masih belum diketahui bagaimana perilaku obat tersebut pada dosis yang lebih tinggi dan berpotensi berbahaya.
Terjemahan Klinis: Beralih dari model hewan pengerat ke pasien manusia adalah sebuah lompatan besar.

“DFNZ berpotensi digunakan untuk pengobatan gangguan penggunaan opioid… namun uji klinis multi-fase yang ketat harus terlebih dahulu menunjukkan keamanan dan kemanjurannya.” — Michael Michaelides

Kesimpulan

DFNZ mewakili langkah signifikan menuju pemisahan pereda nyeri dari risiko tinggi kecanduan dan overdosis yang fatal. Namun, dengan adanya pengujian klinis yang ketat dan adanya hambatan peraturan di masa depan, mungkin diperlukan setidaknya satu dekade sebelum senyawa ini mencapai bangsal rumah sakit.