Multiverse: Dari Fiksi Ilmiah hingga Fisika Serius

14

Gagasan tentang banyak alam semesta – multiverse – telah lama menjadi pokok fiksi ilmiah, dari Rick dan Morty hingga Spider-Man. Namun semakin banyak fisikawan yang mengeksplorasi apakah realitas alternatif ini benar-benar ada, bukan sebagai alat plot, namun sebagai solusi potensial terhadap beberapa misteri terdalam dalam kosmologi dan mekanika kuantum.

Multiverse Kosmologis: Inflasi dan Gelembung Alam Semesta

Salah satu teori terkemuka berasal dari perluasan pesat alam semesta awal, yang dikenal sebagai inflasi. Selama periode ini, fluktuasi kuantum meluas, menciptakan variasi kepadatan yang akhirnya membentuk galaksi. Namun, fluktuasi ini tidak berhenti di batas alam semesta yang dapat kita amati; kemungkinan besar mereka akan melanjutkannya pada skala yang lebih besar. Andrei Linde, fisikawan di Universitas Stanford, berpendapat bahwa fluktuasi yang terus-menerus ini telah melahirkan “gelembung alam semesta” yang tak terhitung jumlahnya dengan sifat fisik yang sangat berbeda.

Alam semesta ini bisa saja memiliki massa partikel, kekuatan gaya, atau bahkan hukum dasar fisika yang sangat berbeda. Di beberapa alam semesta, kehidupan seperti yang kita tahu mungkin mustahil. Keberadaan multiverse memberikan penjelasan mengapa alam semesta kita tampaknya sangat cocok untuk kehidupan: jika terdapat cukup banyak alam semesta, secara statistik tidak dapat dihindari bahwa setidaknya ada satu alam semesta yang memiliki kondisi yang tepat.

Menguji ide ini merupakan sebuah tantangan. Salah satu tanda potensial adalah “bekas luka” pada sisa-sisa Big Bang, yang mengindikasikan adanya tabrakan dengan alam semesta lain. Namun, seperti yang dicatat oleh fisikawan Paul Halpern, belum ada bukti seperti itu yang ditemukan.

Quantum Multiverse: Interpretasi Banyak Dunia Everett

Konsep multiverse lainnya muncul dari mekanika kuantum, di mana partikel-partikel berada dalam keadaan superposisi hingga diukur. Penafsiran tradisional menyatakan bahwa pengukuran memaksa keruntuhan menjadi satu hasil. Namun, fisikawan Hugh Everett III mengusulkan pada tahun 1957 bahwa alih-alih runtuh, semua hasil yang mungkin terjadi terjadi di alam semesta yang terpisah.

Dalam penafsiran “banyak dunia” ini, setiap pengukuran kuantum membelah alam semesta, menciptakan realitas paralel di mana setiap kemungkinan direalisasikan. Anda tidak akan menyadari perpecahannya, karena setiap versi diri Anda akan hidup dengan sendirinya, tidak menyadari versi lainnya. Ini adalah gambaran yang sangat berbeda dengan multiverse yang bertabrakan dengan gelembung-gelembung, namun sama sulitnya untuk dibuktikan.

Tantangan Perjalanan Interdimensi

Terlepas dari kemungkinan teoretisnya, perjalanan ke alam semesta lain tetap berada dalam ranah fiksi ilmiah. Lubang cacing hipotetis mungkin menjembatani kenyataan, namun menciptakannya memerlukan tingkat energi yang jauh melampaui kemampuan kita saat ini. Oleh karena itu, gagasan tentang lubang cacing tersembunyi di lemari Anda sangat tidak mungkin.

Multiverse masih menjadi topik spekulatif namun semakin serius dalam fisika. Meskipun kemungkinan untuk bertemu dengan versi lain dari diri Anda tidak mungkin terjadi, implikasinya terhadap pemahaman kita tentang alam semesta sangat besar.

Apakah teori-teori ini pada akhirnya terbukti benar atau tidak, eksplorasi multiverse memaksa kita untuk menghadapi pertanyaan mendasar tentang realitas, probabilitas, dan hakikat keberadaan itu sendiri.