Bulan berada dalam fase Bulan Sabit Waxing malam ini, yang berarti hanya sebagian kecil saja yang diterangi. Pada tanggal 18 Februari 2025, hanya 1% Bulan yang terlihat, sehingga sulit untuk dikenali tanpa langit cerah dan mata yang tajam. Ini menandai tahap awal siklus bulan, dengan kecerahan yang meningkat dalam beberapa hari mendatang.
Memahami Siklus Bulan
Bulan mengorbit Bumi dalam waktu sekitar 29,5 hari, melewati delapan fase berbeda seiring dengan perubahan sudut pantulan sinar matahari di permukaannya. Fase-fase ini bukan hanya tentang estetika; mereka telah mempengaruhi budaya manusia selama ribuan tahun, mulai dari pertanian hingga mitologi.
Berikut rincian setiap fase:
- Bulan Baru: Posisi Bulan di antara Bumi dan Matahari, membuat sisi yang menghadap kita menjadi gelap dan tidak terlihat.
- Bulan Sabit Lilin: Sepotong cahaya samar muncul di sisi kanan (di Belahan Bumi Utara), tumbuh setiap malam.
- Kuartal Pertama: Separuh Bulan tampak menyala, menyerupai setengah lingkaran.
- Waxing Gibbous: Lebih dari separuh Bulan diterangi, dan terus bersinar terang.
- Bulan Purnama: Seluruh permukaan Bulan diterangi cahaya penuh, tampak sebagai lingkaran terang di langit malam.
- Waning Gibbous: Bagian yang diterangi mulai berkurang dari sisi kanan.
- Kuartal Ketiga (Kuartal Terakhir): Separuh Bulan kembali menyala, namun kali ini di sisi kiri.
- Bulan Sabit Pudar: Sepotong cahaya yang semakin berkurang tetap berada di sebelah kiri sebelum menghilang seluruhnya ke fase Bulan Baru.
Bulan Purnama Berikutnya
Bulan Purnama berikutnya dijadwalkan pada tanggal 3 Maret, menyusul Bulan Purnama sebelumnya pada tanggal 1 Februari. Peristiwa ini dapat diprediksi, memungkinkan para astronom dan penggemar untuk melacak aktivitas bulan dengan tepat.
Siklus bulan adalah aspek fundamental mekanika angkasa, dan memahami fase-fase ini membantu kita memahami pengaruh Bulan terhadap planet kita.
