Dewa Einstein: Membaca Pikiran Spinoza

8

Albert Einstein tidak berdoa. Dia tidak meminta bantuan. Dia tidak percaya pada bos di angkasa yang peduli dengan makan siang hari Selasa atau krisis hipotek Anda. Versi ketuhanan itu—dewa pribadi yang menjawab doa dan membelah lautan—tidak ada dalam kosakatanya. Namun bukan berarti dia ateis. Jauh dari itu.

Dia punya agama. Itu dibangun berdasarkan logika. Tentang kecantikan. Tentang tatanan alam semesta yang kaku dan elegan.

Buku panduan rohaninya bukanlah Alkitab atau Taurat. Itu adalah karya Benedict de Spinoza. Seorang filsuf Yahudi Belanda abad ke-17 yang berpendapat bahwa Tuhan dan Alam adalah satu kesatuan. Deus sive Natura. Jika Anda melihat cukup dekat pada bintang-bintang, pada gravitasi, pada cara atom-atom bersatu, Anda sedang memandang Tuhan.

Bagi Einstein, ini bukanlah puisi. Itu adalah deskripsi pekerjaan.

Obsesinya bukanlah untuk membuktikan Tuhan itu ada. Buktinya ada dimana-mana. Tugasnya lebih sederhana, dan jauh lebih sulit. Dia ingin memahami aturannya. Kode yang mendasarinya. Dia ingin membaca pikiran Tuhan.

Ini bukan tentang penglihatan mistis. Itu tentang teori utama fisika. Dia menghabiskan waktu puluhan tahun untuk mencari Unified Field Theory. Persamaan tunggal yang dapat menyatukan gravitasi dan elektromagnetisme. Gaya yang menahan planet-planet pada orbitnya dan gaya yang menyatukan atom-atom. Satu aturan untuk semuanya.

Mengapa hal itu sangat penting? Karena bagi Einstein, alam semesta dengan ujung-ujungnya yang longgar, dengan aksiden, dengan lompatan kuantum yang “acak”, adalah jelek. Itu tidak sempurna. Tuhan yang sempurna tidak akan bermain dadu.

“Saya ingin mengetahui pemikirannya; selebihnya adalah detailnya.”

Kutipan itu bukan sekadar cuplikan suara. Itu kuncinya. Einstein memandang metode ilmiah sebagai bentuk ibadah. Setiap persamaan yang terselesaikan merupakan sekilas harmoni ilahi. Setiap teori yang rusak adalah selangkah lebih dekat pada kebenaran. Dia tidak mencoba untuk mengubah agama orang. Dia mencoba memecahkan kode arsitektur realitas.

Jadi ketika Anda mendengar tentang pandangan agamanya, jangan mencari bangku gereja. Carilah papan tulis. Carilah upaya diam-diam untuk mencapai alam semesta yang masuk akal. Alam semesta dimana keindahan dan kebenaran adalah satu dan sama.